Holland Alumni Lecture: Making Small Businesses Thrive During and Post-Covid-19 Pandemic

Publication date: 2020-08-15 11:03

Pada hari Sabtu, 15 Agustus 2020, Holland Alumni Network Indonesia menyelenggarakan acara kuliah online (Holland Alumni Lecture) bertajuk Making Small businesses Thrive during and post-Covid-19 Pandemic.

Holland Alumni Lecture merupakan rangkaian acara #dirumahaja series yang diselenggarakan oleh Nuffic Neso Indonesia, menghadirkan pembicara dari anggota aktif Holland Alumni Network Indonesia. Pembicara kali ini adalah Hera Laxmi Devi Septiani yang merupakan praktisi di bidang digital marketing dengan pengalaman kerja di industri Digital OTT Online Streaming, telekomunikasi dan asuransi. Devi yang merupakan sapaan akrabnya, juga merupakan salah satu awardee StuNed pada tahun 2007 dan menyelesaikan program studi master di The Hague University of Applied Sciences, Den Haag, Belanda. Devi juga tercatat sebagai kandidat Doktor di bidang marketing dengan judul disertasi “Adopsi Sharing Economy Peer-to-Peer Lending dan Dampaknya Terhadap Usaha Tani Berkelanjutan” di sekolah bisnis IPB, Bogor.

Acara ini dimulai pada pukul 13.30 – 15.00 WIB, diawali dengan pemutaran video pengenalan aktivitas dan program Nuffic Neso Indonesia, dilanjutkan dengan sambutan pengantar dari perwakilan pengurus Holland Alumni Network Indonesia, Dito Alif Pratama. Dalam sambutanya, Dito menegaskan dampak penyebaran virus corona masih sangat terasa sekaligus menjadi tantangan bagi seluruh lapisan masyarakat, tidak terkecuali para pelaku bisnis dan usaha kecil menengah lainya. Dito juga menambahkan situasi pandemi ini, mau tidak mau, suka tidak suka, menuntut para pengusaha untuk menyesuaikan diri dengan pola kerja baru, adanya batasan ruang gerak diantara masyarakat pun memaksa para pelaku bisnis untuk mencari jalan keluar agar dapat tetap bertahan di masa yang tidak menentu seperti saat ini. Di akhir sambutannya, Dito memberikan penjelasan diselenggarakanya program ini merupakan salah satu bentuk ikhtiar akademik dari Holland Alumni Network Indonesia, untuk mengedukasi masyarakat, khususnya para pelaku bisnis, untuk bersama-sama mendiskusikan langkah dan solusi terbaik agar tetap menjaga stabilitas ekonomi bagi di tengah dan pasca kondisi pandemi.

Susunan acara dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Devi, selaku pembicara.  Di awal presentasi, Devi menyoroti 4 dampak utama dari pandemi yang dirasakan langsung oleh para pelaku bisnis dan pekerja, mulai dari  bisnis yang berguguran, perubahan perilaku konsumen, karyawan yang harus dirumahkan, peraturan yang harus banyak berubah menyesuikan situasi. Devi mengutarakan, “pandemi ini telah mampu membuat kurang lebih 84.926, perusahaan sektor formal merumahkan pekerjanya dan mem-PHK sedikitnya 1.546.208 pekerja, ditambah 31.444 perusahaan sektor informal yang juga harus merumahkan pekerjanya dan menyebabkan kurang lebih 538.385 karyawan di-PHK (data per tanggal 20 April 2020).

Devi menegaskan, “wabah corona ini telah mampu mendisrupsi hidup kita. Walaupun pandemi corona ini telah mampu mendisrupsi hidup manusia, bukan berarti itu semua membuat kita pasrah dan menyerah, khususnya para pelaku usaha. We can’t control the wind, but we can adjust the sails (Kita memang tidak bisa mengontrol angin, tetapi kita tetap bisa mengatur layarnya).

Semangat inilah yang juga disampaikan Devi kepada para peserta kuliah online agar tetap semangat dan tidak menyerah di tengah keadaan ini. Devi meberikan rekomendasi beberapa strategi kepada para pelaku usaha untuk tetap bertahan di tengah dan pasca pandemi nantinya. Diantaranya adalah dengan senantiasa jeli melihat peluang bisnis yang ada dengan kata lain tidak hanya terpaku pada satu model bisnis, membangun komunikasi kreatif agar menarik minat dan perhatian para konsumen, serta memanfaatkan kemajuan teknologi (media sosial) untuk mendongkrak usaha. Beberapa manfaat usaha yang go-online yang disampaikannya adalah:

  • Pasar Global: Toko fisik terbatasi oleh area geografis, sementara toko online bisa menjangkau seluruh dunia
  • Jam operasional 24 Jam. Toko online tidak terbatasi oleh jam operasional, bisa terus buka dan beroperasi 24/7/365
  • Hemat Biaya. Biaya lebih hemat karena tidak perlu sewa tempat.
  • Manajemen Inventori. Manajemen inventori dapat dilakukan secara elektronik sehingga mempercepat proses pemesanan, pengiriman dan pembayaran.
  • Targeted marketing. Data  pelanggan yang lengkap memungkinkan untuk mempelajari perilaku pelanggan serta tren industri yang baru, sehingga dapat memberikan layanan yang di-personal-isasi bagi setiap pelanggan.
  • Bekerja dari mana saja. Menjalankan bisnis online tidak perlu datang dan duduk di kantor dari jam 9-5.  Laptop dan jaringan Internet yang cepat sudah cukup untuk mengelola bisnis dari mana saja.

“Di zaman yang apa-apanya menggunakan media digital (teknologi), kita sebagai pelaku bisnis juga harus melihat peluang ini dengan mulai beralih memasarkan bisnis kita melalui media digital’, jelasnya

Di akhir pemaparan, Devi juga mengajak seluruh peserta kuliah online untuk juga senantiasa menunjukkan kepedulian dengan mengajak semua peserta mematuhi protokol pencegahan penyebaran virus Corona, yaitu dengan menggunakan masker saat beraktifitas, mencuci tangan dengan rutin, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, meminimalisir sentuhan fisik dengan orang lain dan ‘keluar rumah’ untuk keperluan yang benar-benar penting dan mendesak. 

Diperbaharuai terakhir 2020-08-15 11:03